 Alhamdullilah, matur sembah nuwun Gusti Allah. Akhirnya selesai juga novel (buku ke-18 aku) Paris Pandora, dwilogi dari Astral Astria. Kisah perjalanan Astria Sima yang mencari harta karun. Please catch it ya...will make me so happy!
So happy with the cover result!

Namanya Akbar, 4 tahun, dari Ternate. Sudah 6 bulan tinggal di Yayasan Kanker Anak di daerah Cempaka Putih. Kena kanker mata dari umur 2 tahun yang akhirnya membutakan matanya. Karena tidak mampu, jadi semua biaya ditanggung Yayasan Kanker Anak. Tahun ini, Cosmopolitan Cares memilih Yayasan Kanker Anak untuk disumbang. Caranya? Mengumpulkan para selebriti/ publik figur menyumbangkan tas bekas pakai mereka, tidak harus merek, untuk dilelang amal tertutup saat ultah ke-11 Cosmopolitan di Hard Rock Cafe, 27 Agustus nanti. Nanti akan online juga di www.cosmopolitan.co.id. Anda bisa ikuta nge-bid dan dateng memeriahkan pesta itu, sekalian nyumbang. Nanti aku kasih tahu lagi... Selain Akbar, ada Sonia, umur 11 tahun, kanker usus stadium 4 yang sudah sejak umur 8 tahun gak sekolah lagi... Setelah mengunjungi mereka, aku berniat tidak akan pernah mengeluh lagi. Akbar saja pas aku nangis, buru2 ambil gitar mainannya dan main gitar sambil nyanyi buat aku... (Matur sembah nuwun Gusti Allah atas berkah rahmatMu. Jagalah dan sembuhkanlah anak2 ini...)
*WELCOME TO COSMOPOLITAN YOU!YOU!YOU! EVENT* Ingin tahu cara mewujudkan cinta dan meraih cinta? Sedang punya masalah dengan hal tersebut? Pertanyaan-pertanyaan Anda akan dijawab oleh **Leo Lumanto, Konsultan Spiritual*,* yang akan buka-buka rahasia dan memberikan solusi bagi Anda (Nama akan disamarkan jika diinginkan). Di acara :*** A Quest to Love and Destiny*** Hari/Tanggal : Jumat/20 Juni 2008 Tempat : Slim Gourmet Jl. Iskandarsyah Raya No. 97, Kebayoran Baru Pukul : 19:00-selesai (registrasi 18:30) Dapatkan berbagai souvenir, voucher discount dari Jakarta Timur Eye Center untuk lasik, dan free fat check, free consultation, dan doorprize dari Slim Gourmet. Dengan hanya dengan mentransfer investment Anda *Rp 50,000,-* ke
Irma Anggraini A/C 123.000 30 29727 Bank Mandiri Cab Depag Untuk konfirmasi, fax lembaran transfer ke (021) 3152687 dan email ke dameria@cosmopolitan.co.id, atau ke Dame (021) 315 2672 ext. 266 dan yusar.odang@cosompolitan.co.id Cantumkan nama, alamat, pekerjaan, nama perusahaan tempat Anda bekerja,email,dan nomor telepon saat untuk mengonfirmasi kedatangan Anda.
Seorang teman kirim sms di atas, menanggapi 3 kejadian yang menimpa teman-teman perempuan kami dalam seminggu ini.
1) Sebut saja si A. Pacaran sudah 4 tahun, tahu-tahu cowoknya selingkuh dan foto ia dengan si selingkuhan terpampang di friendster. Ouch.
2) Si B, nggak kalah menyedihkan. Teman-temannya mengatakan bahwa mantan pacarnya (yang masih juga telepon si B dan mendatangi tempat kost), meminta sahabat B untuk "tidur" dengan dia. Sahabat Si B membenarkan tapi tidak mau cerita apa tawaran diterima. Ouch.
3) Si C, janjian dengan pacarnya di luar kota. Sampai di kota yang dituju pacar tidak muncul. Ditelepon, ada alasan bisnis mendadak. Si C bete dan balik ke Jakarta daripada liburan sendiri. Dari bandara langsung ke rumah si dia. Pintu rumah terbuka, ia melihat si pacar pelukan dengan perempuan lain di ruang tamu. Ouch.
Kisah nyata. OUCH!
Lalu jawaban atas sms tadi?....... ..............
   Sepertinya beberapa orang ingin mengatakan selamat ulang tahun jauh lebih awal. Beberapa hari ini, dan total adalah jumlah umurku (tebak deh) kertas-kertas bertuliskan: I LOVE YOU, MAMI -dan segala kata cinta, banyak yg berbentuk hati kutemukan. Di mana2! Di tempat tidur, sajadah, tas, sampai toilet! Siapa lagi kalau bukan dari Syaza, anakku tercinta. Pagi ini pula, dikejutkan dengan kiriman kue tart cokelat besar sekali dari Ninit Yunita, my lovely "sis". Terima kasih Nit! Menyenangkan! Enak banget. Malah semua kebagian, sampai OB dan satpam juga. Mbawa berkah. Dear daughter, dear "sis", my birthday is tomorrow. But I guess you both tried to tell me that you just can't wait. Love you! (Terima kasih doa2 semua, silahkan letakkan di sini....tapi selamatnya: besok! Walaupun menurut orang Jawa, jam 6 sore udah pindah hari lho...hehehe.) (Matur sembah nuwun Gusti Allah atas segala rahmatMu yang tiada putus. Dan banyak cinta yang menyelimutiku. Alhamdullilah.)
tersayang, ternyata aku merasa terbangun termasuki tersuduti terbengap terasuki telinga, mata, hidung telapak, tangan dan kaki telengkup terlena tertidur lagi terbang terbawa mimpi termakan terlalu banyak cintamu terima kasih terlalu, tapi... teruskan...
 8 Mei lalu Syaza ultah ke-9. Aku sudah berjanji akan melaksanakan surprise itu. R berpesan, sekali-kali cobalah melaksanakan ultah Syaza di panti asuhan. Aku pikir itu hal yang bagus banget. Aku dan Syaza beberapa kali ke panti asuhan tapi nggak pernah pas ultah Syaza, dan gak pernah aku organize sendiri. Jadilah aku dan R patungan. Tapi! Alhamdullilah sahabat kami, Anto dan istrinya Gia mau ikut serta. Dan alhamdullilah, di hari H sepupunya join, Pandu-Meidi. Alhamdullilah Cosmopolitan nyumbang hadiah beberapa CD lagu-lagu (original!), dan penerbitku Grasindo menyumbang buku-buku cerita. Aku seneng banget, mulai dari memesan tumpeng ke ibunya Rio (reporter Cosmo), belanja Al Quran, sajadah, dan tasbih di Tanah Abang, keluar masuk Gramedia dan ITC kuningan cari-cari goodies, etc etc. Tapi menuju hari H di panti asuhan, aku bingung mesti gimana pas ultah Syaza. Anehnya, ada beberapa penjual, seperti penjual ice cream dan kue yang telepon tahu itu ultah Syaza dan membujuk agar aku membeli ice cream atau kue. "Masa tidak dirayakan di kelas, Bu?" Jawabanku? "Saya punya rencana yang lebih baik dari itu. Terima kasih." Jadi supaya Syaza nggak terkesan aku "cuekin", aku bikin surprise kecil. Aku jemput dia di sekolah, lalu aku ajak makan siang berdua aja. Lunch date with my daughter di Chilipadi. Terus pulangnya, aku dan pak sopir Irwan membawa kue cupcakes 9 dengan lilin-lilin kecil. Seneng banget Syaza happy. Nggak bisa ngebayang hari Minggu ntar. Hari H, Hari Minggu, 11 Mei 2008. Nggak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Sayang, R nggak bisa datang karena terbang. Tapi semua lancar. Bahkan Kak Atok, pendongeng profesional, datang dengan antusias. Perjalanan ke Panti Asuhan Al-Muhajirin di Pondok Cabe juga sangat sangat lancar tanpa hambatan. Dalam setengah jam kami sudah di rumah Ami-Pia, ramah tamah dan sekalian menerima sumbangan kue-kue dari Ami-Pia. Minta restu juga ke nenekku tercinta yang rumahnya tidak jauh dari situ. Pukul 10.30 kami sudah di panti asuhan. Disambut dengan wajah cerita pak Andi Rahman, pimpinannya. Lalu 20 anak, dari SD-SMA bergabung untuk pengajian, sholat, potong tumpeng, dll. Mata mereka berbinar melihat Kak Atok cerita, dan binaran terterang adalah binar mata Syaza. Dia nggak percaya surprise hari itu diawali ulang tahunnya. Dan aku nggak percaya, R berinisiatif dan semua bergulir menjadi nyata. Terima kasih R. Terima kasih Anto-Gia, Pandu-Meidi, Kak Atok, Irwan, Ami-Pia, Yoke-Tama (yang mewakili R), Raditya-Rendy (adik tercinta yang selalu mendukung), dan tentu saja sodara-sodara di panti asuhan Al Muhajirin. More pics lihat bagian foto deh. "Tidak ada hal besar pernah terjadi di dunia kalau tak ada harapan yang dibesar-besarkan," kata Jules Verne, pengarang penuh imajinasi. (Matur sembah nuwun, Gusti Allah, atas nikmatMu yang tiada putus.)
 Dia ada di mana-mana sekarang. Jangan salah, dari dulu dia udah terkenal, sekarang tambah terkenal. Sering pas berangkat kantor aku lihat mobil Anteve seliweran dengan wajah WW. Ya Wimar Witoelar, yang akrab dipanggil WW, atau W. Entah sudah berapa lama kami tidak bertemu, mungkin sebulan. Biasanya dulu rutin sekali makan pagi bersama, sarapan bubur ayam di Lotus atau nasi goreng di rumahnya. Sekarang, pagi-pagi W sudah dimulai sebelum yang lain bangun. Rugi banget kalau sampai ninggalin PERSPEKTIF WIMAR tiap Senin-Jumat jam 6 pagi di Anteve! Bangga banget sama dia, seakan-akan kata-kata, "Hell, Yeah!" kini benar-benar melekat. Senang melihat W senang dan tersenyum serta antusias akan hari-harinya. Lebih senang lagi acara dia sukses, hosts cantik-cantik, dan menyenangkan banyak orang. Tiap pagi sebelum kerja aku nonton W di televisi (kalau gak keluar kota). Suka gak percaya, aku kenal dia, jadi sahabatnya, dan bahkan menulis bukunya. Wow. (Miss you, W. Ada oleh-oleh dari KL nih buat W...)
 Talk show di Trans TV dengan 4 hosts cewek ini... Judulnya? OBROLAN WANITA! Hm...tamu perdana di antaranya Pak Leo Lumanto dan Agus Melaz. Wah belum bisa cerita banyak, selain seru banget berteman dan bekerja sama dengan 3 cewek cantik dan pintar: Kasandra Putranto (psikolog, dosen, ibu), Rahma M. Landy (runner up Puteri Indonesia 2006, model, mahasiswi dokter gigi), Asri Pramaswa (model, pemain sinetron). Doain aja jadi! Rutin! (Nggak kok, aku gak ninggalin kerjaan aku, tetap di Cosmo, tetap nulis buku, tetap nulis skrip sinetron/ film....kan ini sambilan di luar kerja....hehehe!!!)
Ternyata, memang dunia ini senang keindahan. Paling tidak orang-orang yang cantik dan enak dilihat, umumnya diperhatikan orang. Kalau bicara di kampus-kampus aku selalu bilang, ini bukan lagi zamannya "Don't judge a book by its cover". Karena cover itu penting. Majalah Cosmopolitan dan bukuku aja diplastikin, jadi orang beli karena covernya, dulu, juga ringkasan isinya.
Dan ketika aku menjadi jelek, dunia berbalik. Ini pengalamanku. Kulitku gatel-gatel dan bercak-bercak karena sinar matahari (terlalu asyik sama rafting dan kegiatan outdoor), nah, aku ngaca. Hm...kayaknya suram banget nih muka, pikirku. Jadilah aku ke dokter kulit. Dianjurkan chemical peeling. Sadar diri dengan usia yang membuat regenerasi kulit susah banget, walau dengan scrub berkali-kali, aku mengiyakan.
Bukan proses menuju cantik yang mau aku ceritakan, tapi proses saat jelek. Peeling memang merusak kulit dulu, supaya mengelupas dan digantikan kulit baru yang segar. Saat pengelupasan inilah, kulit menjadi sangat hitam dan pada ngelentek, ngelupas. Serem deh.
Ini yang aku amati: 1) Orang jadi nggak menatap aku lagi saat bicara atau sebaliknya, mengamati dengan rasa penuh ingin tahu, jadi tidak konsentrasi atau fokus. Selama peeling aku selalu bilang gini kalau bertemu klien atau pas rapat, "Maaf ya, saya sedang perawatan kulit."
2) Saat penjelasan tidak bisa terus diucapkan, orang pada umumnya, di tempat umum, bersikap sama: melihat (bertanya-tanya) atau tidak melihat. Di supermarket, ketika aku bertanya sesuatu, si mbak2 hanya menunjuk lorong dan tidak melihat wajahku sama sekali setelah melihat sekilas!
3) Ketika cantik, aku merasa diperhatikan. Ketika jelek, orang kurang memperhatikan. Bahkan satpam enggan menawarkan pertolongan, buka pintu atau mengangkat barang, misalnya. Satpam yang sama.
4) Aku bersyukur pada Allah, bahwa aku dianugerahi wajah yang sering disebut "cantik" (hahahaha, bukan standar model), tapi aku juga lebih bersyukur merasakan apa yang mereka rasakan yang merasa wajah "tidak cantik".
5) Terkadang orang berwajah cantik, hatinya cantik. Kadang orang berwajah cantik, hatinya jelek. Kadang orang berwajah jelek, hatinya cantik. Atau berwajah jelek, hatinya pun jelek. Dan kita semua punya andil soal pembentukan karakter. Contoh, bayangkan orang jelek, bertanya sesuatu, sudah tidak dijawab (baca: dicuekin) eh tidak dilihat. Jadinya si jelek marah-marah, menyumpah. Pantesan gambar2 nenek sihir wajahnya jelek. Ada yang gak cantik, eh ke dukun pula, minta susuk...ih serem. Tapi, ingat juga, ibu tiri puteri salju itu cantik, hatinya jahat. Hm...
Ada juga yang jelek, tapi karena tersenyum terus, jadi lama2 cantik. Keliatan cantik, menyenangkan, betah diajak ngomong. Sebaliknya, cantik, jutek banget, lama2 kayak nenek sihir.
Dunia ini memang sangat diskriminasi. Paling tidak makin diskriminasi. Kalau tidak cantik, punyalah duit banyak. Jadi tidak usah heran kalau dibilang orang jelek (maaf), tapi uangnya banyak, kok ceweknya banyak. Atau orang cakep banget, tapi gak punya uang, juga laku keras.
Ah, ngomong apa aku. Aku berjanji nggak pernah mendiskriminasikan orang atas muka mereka. Tapi pada hati.
(Matur sembah nuwun Gusti Allah, hari ini kulitku mulai normal. Dan sepertinya disebut "cantik" membahagiakanku, aku nggak bisa bohong. Jagalah aku ya Allah, dari segala kejelekan, wajah atau hati.)
 Mencari Tuhan di sela sela dedaunan antara kesunyian dan hujan serta kesendirian dan juga adzan sampai aku pada bisikan, "Tuhan ada dalam keimanan, berhenti mencari dan temukan ketenangan." (Terima kasih Dek Niken yang memotret aku 'diam-diam' di Jogja saat ziarah ke Eyang Pakualam I dan Eyang lainnya.)
 Percaya aku suka gambar? Akhir-akhir ini aku suka gambar imajinasi dan fantasi di sela-sela kesibukan kantor. Kurang pede nggambar, tapi ya...coba2 aja di kesendirian. Gambar, menulis. Hm... Kenalin: ini namanya Nogosari. Dia naga Jawa dengan jari lima tiap kakinya (Naga Cina jarinya 3). Yeah, dia aku gambar saat makan siang. Eh, emang sengaja dibuat gitu, berkumis, ndut...hehe....udah lama sekali dia bertapa...hahaha. Aku biasanya gitu, gambar2 sendiri tokoh2 di novelku, supaya bisa inget terus di novel penggambarannya. (Cerita Nogosari dan Astria bisa ditemukan di "Paris Pandora"-dwilogi dari "Astral Astria"....wah gak tau kapan selesainya, hehehe. Doain aja.)
   Rabu, tanggal 27 kemaren, aku salah satu dari dari pemred yang diundang Ibu Ani SBY untuk acara Friendship Gathering di Istana Cipanas. Seneng! Pengen banget ajak anak2 Cosmo, tapi cuma boleh ajak 1 reporter yang terpisah (ajak Intan, managing editor!- wakilku). Berangkat jam 8.30 naik bus nomer 2. Satu bus sama mbak Wulan, anak ibu Martha Tilaar dan Mbak Lani asistennya. Mereka berdua super baik dan super ramah! Aku duduk sebangku sama Ibu Piet A. Tallo, istri gubernur NTT yang tidak ada sombong2nya, baik! Intan sempat sms becanda, "Mbak Fir, jangan mau kalah dong sasakannya!" Datang disambut tari2an, dikasih minuman, terus antri salaman ama ibu Ani. Norak deh, aku mbujuk2 mbak2 di situ untuk motret aku, taunya fotografer segneg udah siap. Uuuuuh, kan pengen cepetan punya. Sabar....ntar ambil di Mas Wawan di segneg ;-). Nyusul ya ditaruh di sini. Lucunya, tahu2 salah satu pengawal ibu Ani melambaikan tangan ke aku pas di taman. Mbak L ini bilang, "Mbak Fir, inget aku gak?" Aku jawab: "Iya, sering ke kantor pemotretan, njagain Putri Indonesia..." "Miss Universe, Mbak." "Oh iya. Lho kamu sekarang ngawal ibu negara?' "Hehehehehe. Iya Mbak Fira. Mau foto sama ibu?" "Eh, jangan. Ntar-ntar aja...Selamat ya." Gitu deh. Seru, makan liat pertunjukan, makan di taman. Sampai rasanya gak percaya, kok ya aku jadi salah satu undangan. Sayang hujan deras, jadinya waktu jalan-jalan di taman diperpendek. Pulangnya, dapet macem2 suvenir, dari Istana Cipanas, makanan ringan, sampai sayur-sayuran organik segar. Irwan, supir baruku pengganti Pak Wagia yang udah pensiun dan buka warung (in case pada wondering...hahahaha), senang dapat payung dan goodies Istana Cipanas. Senangnya! Matur sembah nuwun, Gusti Allah. (Note: Dulu ketemu juga ama Bu Ani dan suaminya Pak Presiden...saat kampanye jadi presiden...terus tau gak ketemu di mana? Salaman di Pondok Indah Mal!)
  Bersama Syaza, tentu saja. Sudah lewat memang, tapi aku mau menegaskan, she is my love, my everything. Sekarang ini tidak ada yang lebih penting daripada dia. Jadi maaf, jika ada yang merasa aku tidak meluangkan waktu, karena memang waktunya untuk Syaza. Masih terbayang senangnya dia saat siang-siang aku telepon: "Syaza mau Valentine sama mami?" Dia teriak. "Maaaau! Ke mana Mami?" "Syaza tidur siang dulu ya? Nanti malam boleh ikut mami liat pertunjukan." (Dia tidak pernah tidur siang sejak masuk SD. Yang ada main melulu atau berenang.) Dia menyahut, "Bener ya Mami. Oke deh, Syaza tidur siang." Ajaibnya, dia benar tidur siang. Sorenya, hujan deras. Ia menjemput aku di kantor. Berdua, kami mengenakan pakaian pink. Di kantor, teman-teman tersenyum, berpikir aku akan bertemu R. Dan malam itu memang sangat hangat dan romantis. Antara ibu dan anak. Pertunjukkan musikalisasi puisi Sapardi Djoko Damono di TIM. Mbak Reda yang mengundang aku. Sebagai teman baik dan fansnya, aku tentu saja mengiyakan. Mbak Reda punya suara emas. Mau duet dengan Nana atau Ari, sama saja indahnya. Ada juga pembaca puisi lain seperti Cornelia Agatha, Ine Febrianti, dan favorite Syaza: anak2 di Teater Tanah Airku. Aku tersenyum. Bahagia rasanya, dipenuhi cinta.
 Dear R, hari berjalan cepat...kesibukan terus menggunung. Hidupku menjadi kerja, anak, kerja, anak. Bahkan gosip di kantor tentang siapa resigned pun aku baru tahu. Sungguhlah mengharukan ketika di pagi ini, aku menerima buku oranye terang dari Esti Nurmi Oktaviani. Well, sebenarnya itu skripsi. Judulnya: "Penggunaan Internet Sebagai Media Publisitas Pesohor" (Studi pada" Multiply "Fira's Fire: Light Up!" milik Novelis Fira Basuki. Setelah kami mengobrol, aku meluangkan waktu berhenti untuk mengedit tumpukan tulisan reporter. Untuk majalah Cosmopolitan, Cosmopolitan Bride, dan buku Cosmopolitan Love & Lust. Sekarang sedang waktu makan siang, aku tetap tidak bergerak di depan. Membaca isinya. Jadi menangis. Hahahahaha, ya ya. Betapa banyak yang peduli sama aku sementara aku ditelan kesibukan. Sampai2 aku bingung, aku yang tidak suka sama aku dalam pertemuan singkat yang mungkin aku sudah lupa. Ah, mungkin salah aku. Terima kasih Esti, untuk memilih skripsi dengan tema yang bikin aku tersanjung (dan senang juga terharu), untuk waktu kamu, dan untuk penulisannya yang bagus ;-) Terima kasih para multiplier, yang meluangkan waktu membantu Esti: Timothy Malachi, Mas Bimo, Fransiscus, Ollie, Dina, Aulia, SA, NN, dan banyak lagi. Matur sembah nuwun Gusti Allah ;-) (Wah dapat buku nih dari Esti. Judulnya: Ilmu Kasampurnaan Mengkaji Serat Dewaruci. Jadi ada bacaan weekend ini. Terima kasih!)
Barusan membayar honor tim skenarioku. Ya, asal tahu, skenario atau skrip bisa dibuat per tim, kayak sistem Amerika. Satu orang head (atau dan partnernya)- biasanya yang idenya banyak, rapat, bikin outline dan ringkasan cerita, per episode, kalau bisa sedetail2nya. Terus anggota tim nulis bergiliran siapa duluan nulis. Gitu sih.
Anyway bukan itu yang mau aku ceritain. Tapi kabar dari partnerku di tim skenario selama ini bilang si PH nyebelin itu jadi motong 1,5 juta per episode.
"Kenapa ya?" "Katanya stasiun TV belinya sekarang nilainya lebih rendah. Jadi pemasukan lebih kecil." "Kan satu pihak, di kontrak sudah disebut nominalnya. Kenapa gak protes." "PH besar tahu sendiri." (Mereka selalu menang di pengadilan, entah kenapa) "Kalau aku ke sana gimana?" "Jangan, kamu terlalu frontal..."
Terakhir aku ke sana, emang terus editor di sana gak suka ama aku. Ya, aku emang memiliki prinsip, juga gak mau semena-mena ngubah cerita jadi konyol, gak masuk akal, atau mengada-ada. Kalau akhirnya jadinya lain, aku harus menyerah pada sistem dan harus ingat ini komersial. Makanya itu aku nulis novel dan fiksi lainnya kan? Enak, nulis fiksi sendiri, bebas, merdeka mengemukakan pendapat, walau royalti belum dihargai.
Aku tarik napas. Orang-orang di bank langsung liatin aku. Ya, obrolan di telepon ini aku lakukan saat antri di bank. Aku mau mbayar honor partnerku. Nggak, aku gak potong honor dia. Oya, suaraku emang kenceng, btw. Marah? Gak tahu sekarang, tapi marah gak marah, I want people to "listen".
Soal pemotongan honor ini menurutku nggak adil, memotong HAK orang lain. Sekarang ini contohnya, kalau pemasukanku kurang, masa iya aku potong gaji sopirku, pembantuku, dll? Aku sih maunya justru memberi lebih mereka setiap ada rezeki, dan sampai kapan pun sebelum keringat mereka kering aku harus membayarnya.
Aku ngantri dan terdiam. Matur sembah nuwun Gusti Allah, aku bukan termasuk di golongan orang yang memotong HAK orang lain. Sabarkan hamba.
 R, satu lagi, sejak jadi half-vegetarian (masih makan ikan kadang2, walau daging sapi dan ayam atau daging2 lain udah gak), tahu-tempe adalah menu harian aku. Aku kehilangan menu favorit saat makan siang di kantor! Memang yang impor masih banyak, tapi harganya memang naik.... Sedih juga, mana baca Kompas, tukang gorengan bunuh diri karena harga bahan pokok, termasuk tahu-tempe-nya melonjak naik. Belum lagi berita2 di TV perusahaan tahu-tempe bangkrut. Kemaren ke warung Cobek dekat kantor, pepes tahu kesukaanku ilang, oncom juga gitu ilang, bacem tahu-tempe juga hilang dari menu ;-( Gimana sih?
 R, setelah kejadian dengan editor PH yang tidak suka ama aku itu, alhamdullilah tahu-tahu Mr. Sharad, PH dari Malaysia ajak aku nulis lagi. Terakhir aku ikutan di tim penulis skenario film Tipu Kiri Tipu Kanan (yang diperanin Titi Kamal dan kekasihnya Cristian Soegijono) yang syutingnya di Malaysia. Ternyata benar ya semua ada berkahnya? Terus abis ngobrol ama Wimar Witoelar (WW-sekarang lagi di KL, Malaysia, hehehe), soal dunia hiburan yang sikut sana sikut sini. Aku jadi mendukung strikes dari Writers Guild of America kepada Alliance of Motion Picture Television Producers (AMPTP). Bayangkan, mereka yang menurut aku udah sejahtera masih kurang diperhatikan karena "di belakang layar". Paling sedih nih, pas di PH kalau minta naik dijawab, "Budget untuk artis memang tinggi Mbak, kami butuh artis ngetop. Maaf." Hm...jadi mikir, kenapa ya setiap mau dapet royalti aku mikirin kapan ya di Indonesia pajak penulis lebih kecil dari pendapatan? Masa pendapatan royalti rata-rata 10% (aku sih sekarang alhamdullilah emang udah 12,5% tertinggi katanya), pajaknya 15%. Temenku penulis biasanya udah mulai curhat ke aku...dan aku udah kok koar2 ke penerbit...duh, kapan, kapan... Terbaru! Barusan salah satu tim skenario aku bilang PH itu nurunin honor karena keadaan keuangan PH kurang bagus. Hiks...Bukannya naik, dibabat abis lebih dari 1,5 juta! WHAAAT! (Gusti Allah nyuwun ganti yang melimpah. Ikhlaskan hamba. Matur sembah nuwun.)
Dear all, need your help. Lagi bantuin R cari rumah dan/ atau tanah.
Kata R prefer di daerah Tebet, Pancoran, sekitarnya, atau selatan. Akses mudah, karena sebagai pilot dia butuh gampang diantar jemput mobil dinas. Dan yang penting: BEBAS BANJIR!
Ini akan jadi rumah kedua dia (ekstra), jadi sebenarnya dia tahu banget yang dia inginkan:
- Budget di bawah 1 M. - Rumah gak penting, lebih dipentingkan TANAH. Jika ada rumahnya, tanahnya harus ada tempat untuk kemungkinan pelebaran atau renovasi rumah. Katanya dia pengen bangun sesuai dia.
Dibutuhkan info cepat dengan contact person. Bisa ditulis di sini, biar aku print aja lembarannya, kasih ke dia. Atau PM aku. Yang akan hubungi biar R sendiri, aku gak ikut-ikutan, cuma ngumpulin info.
Tolong ya. Terima kasih.
 Di awal tahun aku selalu berharap semuanya jadi lebih baik, siapa yang tidak? Ketika mendapat pekerjaan menulis skenario di saat orang-orang libur, aku melakukannya dengan senang hati. Malah aku sampai gak tidur bikin episode 1-7 tiap malam, karena siangnya jalan-jalan ama Sophie sekeluarga, adikku yang berlibur dari Amerika. Lalu, suatu hari datanglah perempuan itu sebagai editor skenario. Aku sudah nggak enak dari awal, perasaanku bilang, akan ada masalah. Intinya, dia merasa gak bisa menerima skenario aku yang dibilang bahasanya menengah ke atas. Gak memberi masukan, dan gak terbuka, cuma bilang gak cocok, gak bisa. Padahal itu yang mereka minta, toh ceritanya memang untuk konsumsi menengah ke atas. Aku gak ngerti karena dia gak bilang apa-apa lagi. Anehnya, tim India, dari awal yang ikutan merumuskan cerita, setuju dan senang ama ceritaku. Aku menghela napas. Ya sudahlah. Padahal dari honor skenario itu rencananya aku pengen banget naik haji. Sudah aku niatin. Mungkin belum rezekiku. Terus orang India itu bilang di telepon, karena dia juga sedih. "Fira, saya percaya kalau Tuhan menutup 1 pintu kita, Tuhan akan membuka PINTU LAIN yang LEBIH BESAR." Lalu aku terdiam. Aku setuju dengan pernyataan itu. Akhirnya aku menjawab sms perempuan tadi mengatakan mungkin ceritanya cocok, tapi aku dan dia yang tidak cocok. Aku menerima keputusan dia dengan lapang dada. Anehnya, karena aku percaya sama Allah, dan percaya omongan pintu lain yang terbuka...malamnya, seseorang menelepon aku. Ini rencana sudah beberapa waktu yang lalu. Rencana besar, dan nasional. Rencana yang tidak pernah aku bayangkan. Alhamdullilah. Bukan itu aja, Ronny, produser dan my dearest friend yang ngurusin film Rojak memberi kabar progress yang menggembirakan. Plus, tahu-tahu ada undangan dan si pengundang maunya aku yang pergi, untuk jalan-jalan ke India, termasuk ke New Delhi, Jodpur, sampai Agra (Taj Mahal!). Aku baru inget, India ada di daftar aku sebagai salah 1 tempat wajib dikunjungi. Aku tersenyum. Ya Gusti Allah, ampuni hamba jika tadinya tidak menerima. Matur sembah nuwun sanget atas PINTU-PINTU lain yang telah dibukakan. (Saat menulis ini one of my best friends bilang dia baru ditipu orang lain ratusan juta. Aku menyampaikan soal pintu ini. Bahwa jika dia ikhlas, akan ada pintu yang lebih besar yang akan dia masuki. Insya Allah.) (Seharusnya aku menulis tentang ini di novel PINTU aku dulu ya...hehehe.)
| |